KASIH IBU


Sewaktu kecil, saya sering sakit. Bersyukur, ibu saya selalu sigap
merawat. Jika panas tubuh saya tidak turun dalam sehari, Ibu pasti
segera membawa saya ke rumah sakit. Tidak mau membuang-buang waktu.

Beliau tidak mau saya terlambat mendapat pertolongan medis. Walau
sedang repot, atau tidak punya biaya untuk pengobatan di rumah
sakit, Ibu tidak putus asa. Apa pun akan ia lakukan demi anak yang
ia kasihi. Sampai setelah saya berkeluarga, Ibu masih menjadi orang
nomor satu yang datang ke rumah jika mendengar saya sakit.

Seperti wanita di Sunem yang mendapat berkat anak laki-laki setelah
lama menanti keturunan. Ketika sang anak semakin besar, si anak
tiba-tiba sakit hingga meninggal. Namun demikian, sang ibu tidak
menyerah. Bahkan, ketika sang suami mencegahnya menemui Nabi Elisa
untuk meminta pertolongan (ayat 23), sang ibu tidak goyah dan tetap
pergi (ayat 24). Apa pun akan ia lakukan supaya anaknya hidup.
Dengan kegigihan dan iman, sang ibu berhasil mendapatkan pertolongan
Nabi Elisa; anaknya kembali hidup.

Terkadang, sebagai anak, kita menyepelekan atau melupakan kasih ibu.
Padahal, kasih ibu adalah kehidupan bagi anaknya. Tanpa ibu yang
memberi diri untuk mengasuh dan mendidik, kita tidak akan ada
seperti saat ini. Kita memang mungkin tak dapat membalas kasih ibu
kita, tetapi kita tentu dapat melakukan hal-hal yang menyejukkan
hatinya. Lewat perhatian, sapaan, kunjungan, yang tentu melegakan
hatinya. Gunakan momen khusus di hari ini untuk mengingat segala
jasa Ibu dan menunjukkan penghargaan kita atas segala kasih yang
sudah diberikannya selama kita hidup. Dan, jangan tunda lagi! –GP

KASIH IBU TIDAK DAPAT DIBATASI OLEH APA PUN DAN AKAN
SELALU MENGALIR UNTUK ANAK-ANAKNYA HINGGA KAPAN PUN.

source: milis renungan

Published in: on 29 Desember 2010 at 12:34 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Ucapan Selamat Hari Natal dalam berbagai Bahasa.


Bila anda ingin mengucapkan Selamat Hari Natal kepada sahabat, keluarga, dan orang-orang terdekat anda, maka sebagai bahan kejutan tidak ada salahnya anda mengirim ucapan selamat natal yang terdiri dari berbagai bahasa yang ada pada tulisan dibawah ini.

A
Afrika: Gesëende Kersfees
Albania:Gezur Krislinjden
Arab: Idah Saidan Wa Sanah Jadidah
Argentina: Feliz Navidad
Armenia: Shenoraavor Nor Dari yev Pari Gaghand

B
Belanda: Vrolijk Kerstfeest en een Gelukkig Nieuwjaar! atau Zalig Kerstfeast
Brazil: Boas Festas e Feliz Ano Novo
Bulgaria: Tchestita Koleda; Tchestito Rojdestvo Hristovo

C
Chile: Feliz Navidad
China: (Kanton) Gun Tso Sun Tan’Gung Haw Sun
China: (Mandarin) Kung His Hsin Nien bing Chu Shen Tan
Columbia: Feliz Navidad y Próspero Año Nuevo
Czech: Prejeme Vam Vesele Vanoce a stastny Novy Rok

D
Denmark: Glædelig Jul

E
Eskimo: (inupik) Jutdlime pivdluarit ukiortame pivdluaritlo!

F
Filipina: Maligayan Pasko!

H
Hawai: Mele Kalikimaka
Hindi: Shub Naya Baras
Hungaria: Kellemes Karacsonyi unnepeket

I
Ibrani: Mo’adim Lesimkha. Chena tova
Indonesia: Selamat Hari Natal
Inggris: Merry Christmas
Iraq: Idah Saidan Wa Sanah Jadidah
Irlandia: Nollaig Shona Dhuit, or Nodlaig mhaith chugnat
Italia: Buone Feste Natalizie
Islandia: Gledileg Jol

J
Jepang: Shinnen omedeto. Kurisumasu Omedeto

K
Korea: Sung Tan Chuk Ha
Kroasia: Sretan Bozic

L
Latin: Natale hilare et Annum Faustum!
Lithuania: Linksmu Kaledu

M
Makedonia: Sreken Bozhik
Malaysia: Selamat Hari Natal

N
Norwegia: God Jul, or Gledelig Jul Papua
New Guinea: Bikpela hamamas blong dispela Krismas na Nupela yia
i go long yu

P
Pennsylvania German: En frehlicher Grischtdaag un en hallich Nei
Yaahr!
Peru: Feliz Navidad y un Venturoso Año Nuevo
Perancis: Joyeux Noel
Portugis:Feliz Natal

R
Rumania: Sarbatori vesele
Russia: Pozdrevlyayu s prazdnikom Rozhdestva is Novim Godom

S
Serbia: Hristos se rodi
Slovakia: Sretan Bozic or Vesele vianoce
Serb-Kroasia: Sretam Bozic. Vesela Nova Godina
Spanyol: Feliz Navidad
Swedia: God Jul and (Och) Ett Gott Nytt År

T
Tagalog: Maligayamg Pasko. Masaganang Bagong Taon
Thailand: Sawadee Pee Mai
Turki: Noeliniz Ve Yeni Yiliniz Kutlu Olsun

U
Ukrainia: Srozhdestvom Kristovym

V
Vietnam: Chung Mung Giang Sinh

W
Welsh: Nadolig Llawen

Y
Yugoslavia: Cestitamo Bozic
Yunani: Kala Christouyenna!

source: dari milis.

Published in: on 25 Desember 2010 at 10:47 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Nunga Loja Dagingkon


Tikki metmet uju sebelum sikkola sahat tu SMP iba, sai jotjot do diendeon inong naburju (almarhumah) sada ende, nga hohom be sude dibagasan borngin jala tikina laho modom nama. Sai niingot do ende on sahat tu sadarion. Ende na pendek alai mengandung arti na tung massai bagas situtu. Sada lagu sian buku ende na berjudul “Nunga Loja Dagingkon”

Rap mangendehon ma hita.

Naeng ma pitpit matangkon
O Tuhanku mata Mi
Dungo di podomanki

Sesa ma sasude
Na hubaen naso ture
Ai luhut na sala i
Di pature Jesuski

Dohot angka donganki
Sahat ma tu tangan Mi
Isi ni portibion
Jaga ma saborngin on

Angka na mardangol i
Dohot na marsahit i
Angkup ni natangis pe
Sai apuli ma sude

Published in: on 25 Desember 2010 at 2:59 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Obama & Bhinneka Tunggal Ika


Artikel dibawah ini saya copy paste dari milis atas seizin dari penulis.

Saya menarik untuk mempublishnya bukan semata-mata agar blog ini lebih berisi, dan bukan juga karena mengidolakan kepemimpinan dari figur seorang obama, bukan juga karena tidak mampu membuat atau menulis sebuah artikel walaupun hanya mampu menulis hingga beberapa paragraf saja:-).

Namun alasan utama saya untuk mempublish tulisan dari ybs ini adalah karena makna dari “Bhineka Tunggal Ika” begitu penting kita pahami didalam bermasyarakat dimanapun kita berada.

Dimuat pada Majalah Warta Politik, edisi Desember 2010

Obama dan Bhineka Tunggal Ika

Oleh Victor Silaen

Dalam pidatonya di Kampus Universitas Indonesia, Depok, 10 November lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama antara lain mengatakan, kalau bangsa AS punya semboyan “Unity in Diversity”, Indonesia punya “Bhineka Tunggal Ika”. Memang, sejak dulu orang AS bangga menjadi bangsa AS. Namun, kebanggaan itu tak berarti menafikan jatidiri asali yang terbawa dari nenek-moyang mereka — kaum imigran. Itu sebabnya, dalam percakapan perkenalan, mereka lazim menyebut diri sebagai ”Afro-American” atau “Mexican American” atau yang lainnya, tergantung dari mana nenek-moyang mereka berasal.

Meski jatidiri asali itu selalu disebut-sebut, pada kenyataannya bangsa AS tetap kokoh bersatu hingga kini. Padahal, pluralitas budaya masing-masing golongan masyarakat di Negeri Kaum Imigran itu diberi ruang yang cukup untuk berkembang. Beda dengan bangsa Indonesia, yang realitas masyarakatnya sangat pluralisik sejak dulu. Di sini, selain semboyan ”berbeda-beda tapi satu” itu, juga ada Pancasila yang menjadi landasan ideologis sekaligus memberi jaminan legalistik bagi keberagaman suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) di masyarakat. Namun, tak dapat disangkal bahwa ke-ika-an lebih ditekankan daripada ke-bhineka-an. Apalagi di era Orde Baru, yang pemerintahnya selalu mengimbau rakyat untuk tidak menyinggung-nyinggung soal SARA.

Dengan bergulirnya demokrasi, pasca Orde Baru, kebebasan pun terbuka lebar-lebar, termasuk untuk mempercakapkan pelbagai hal. Maka, soal SARA pun menyeruak tak malu-malu menjadi isu yang diperjuangkan secara politik. Kalau orientasi perjuangannya adalah kebenaran, keadilan dan kesejahteraan, mungkin kita patut mengapresiasinya. Namun patut disesalkan, orientasi perjuangan itu cenderung pada kekuasaan. Alih-alih menjadi alat, politik dipandang sebagai sekedar cara sekaligus arena untuk berkompetisi. Kekuasaan diraih untuk kepentingan kelompok sendiri dan dengan mengedepankan identitas SARA yang primordialistik, terutama suku dan agama.

Tak heran jika selama lebih dari satu dekade terakhir ini kesatuan-persatuan Indonesia terancam retak. Konflik demi konflik antarkelompok yang saling mengedepankan ego primordialistik masing-masing telah terjadi di sana-sini. Peristiwa demi peristiwa kekerasan oleh kelompok yang satu terhadap kelompok yang lain hanya karena suku maupun agama yang berbeda pun hampir-hampir tak terhitung banyaknya. Memang, bangsa ini masih tetap satu, tapi tak lagi solid, karena kebhinekaannya telah terkoyak di sana-sini.

Maka, jangan heran jika hari-hari ini banyak orang yang lebih menyesali demokratisasi dalam pelbagai aspek kehidupan daripada mensyukurinya. Demokrasi dianggap identik dengan ketidaktertiban, ketidaksantunan, ketidakadilan dan yang semacamnya. Padahal, demokrasi sama sekali tak ada kaitannya dengan itu semua. Sebab, demokrasi justru merupakan reformasi peradaban masyarakat yang bertumpu pada rasionalitas dan moralitas.

Tetapi, seiring demokrasi, mengapa integrasi republik ini justru kian rapuh? Beberapa kemungkinan ini dapat dikemukakan sebagai jawabannya. Pertama, adanya rongrongan dari pihak-pihak tertentu yang berniat menggantikan kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa. Mereka tak sadar bahwa Pancasila telah membuktikan dirinya mampu menjadi perekat bangsa di masa lalu dan masa kini untuk tetap bersatu. Di masa depan, jika Pancasila diganti, maka bukan potensi disintegrasi yang menjadi masalah, melainkan Indonesia yang bukan lagi Indonesia. Inilah yang tidak mereka pahami.

Kedua, boleh jadi niat mencari alternatif dasar negara dan ideologi bangsa itu didorong oleh semangat kebebasan yang bertumbuh subur di era demokrasi ini. Namun, kebebasan tanpa diimbangi rasionalitas dan moralitas bukanlah demokrasi. Sebab, demokrasi tidak eksis di ruang hampa atau di hutan belantara. Ia ada di masyarakat, di tengah kita semua. Itu berarti kebebasan bukan saja harus mengindahkan, tetapi juga menghormati kesepakatan-kesepakatan hidup bernegara dan berbangsa yang telah terpatri menjadi hukum positif.

Terkait itu, Mahathir Mohamad dalam Achieving True Globalisation (2004), mengatakan demikian: “Democracy, at least at present, is the best form of governance, but by no means a perfect one. In democracy, one has the freedom. When democracy is misunderstood, however, and freedom misinterpreted, the result is anarchy.” Jadi jelaslah bahwa demokrasi tak relevan dengan anarki. Karena itulah demokrasi harus dihayati oleh individu-individu yang akal budinya telah akil-balik dan sadar akan sosiabilitasnya di tengah sesama yang beranekaragam.

Ketiga, adalah fakta bahwa pemerintah sendiri melakukan pembiaran terhadap gerakan-gerakan yang mengancam pluralisme. Kita patut berduka atas situasi dan kondisi Indonesia hari-hari ini yang kian tak ramah terhadap perbedaan. Toleransi nyaris mati. Padahal, sejak dulu Indonesia sangat heterogen, dan karenanya toleransi menjadi kebutuhan mutlak. Di era modern ini, di ruang-ruang publik manakah homogenitas absolut dapat kita temukan? Tak ada. Sebab, heterogenitas sudah merupakan keniscayaan hidup modern. Karena itulah, tak bisa tidak, kita harus belajar mengapresiasi kemajemukan dengan lapang-dada.

Begitulah sejatinya toleransi, yang berasal dari kata “tolerare” (bahasa Latin), yang meniscayakan sikap menghargai harus aktif dan dimulai dari diri sendiri. Jadi dengan toleransi, kita sendirilah yang harus memulai untuk menghargai orang lain. Tapi, ia tak berhenti di situ. Sebab, toleransi akan menjadi bermakna jika diikuti juga oleh pihak lain, sehingga sifatnya menjadi dua arah dan timbal-balik (resiprokal).

Banyak faktor yang menyebabkan kemampuan bertoleransi masyarakat kian melorot hari-hari ini. Sayangnya salah satu faktor tersebut justru agama, yang dihayati secara eksklusif sekaligus ekstrem. Bukankah sejak kecil umumnya kita diajar untuk tak perlu belajar mengenali kebenaran-kebenaran di dalam agama-agama lain? Alhasil, ketika dewasa, alih-alih bersahabat dengan mereka yang berbeda, kita cenderung bersikap curiga.

Di sinilah letaknya salah paham besar itu. Dengan tuntutan untuk bertoleransi, kita tak diminta untuk mengamini kebenaran-kebenaran yang diajarkan agama-agama lain. Jelas, agama yang satu dan agama yang lain tak sama. Bahkan di dalam agama yang satu saja terdapat banyak denominasi bukan? Dengan itu maka yang diperlukan adalah kesediaan untuk mengakui hak asasi orang lain dalam menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agamanya. Selebihnya kita juga harus menghargai dan menghormati kebenaran-kebenaran yang mereka imani. Dengan begitulah kita niscaya mampu bertoleransi, juga berempati, terhadap sesama yang berbeda.

Kembali pada Obama, dalam pidatonya, ia antara lain mengatakan: “Meski negara masa kecil saya telah banyak berubah, beberapa hal yang saya pelajari tentang Indonesia ialah semangat toleransi yang tertanam dalam konstitusi. Ini terlihat pada keberadaan masjid, gereja, dan kuil yang berdiri bersebelahan satu dengan yang lain. Bhinneka Tunggal Ika, perbedaan dalam kesatuan. Ini adalah dasar negara Indonesia yang dapat dijadikan contoh untuk dunia dan inilah kenapa Indonesia memegang peranan penting di abad ke-21.”

Ini tentu menjadi sentilan keras bagi kita sebagai pemilik Pancasila dan ”bhineka tunggal ika”. Alih-alih memuji, Obama justru menyindir, karena ia tahu bahwa Indonesia hari ini sudah berbeda. Indonesia kini adalah Indonesia yang tak lagi mengapresiasi kemajemukan. Rumah-rumah ibadah begitu mudahnya dirusak atau ditutup paksa. Kebebasan beribadah di sana-sini terancam. Begitupun kebebasan berkeyakinan bagi kelompok tertentu.

Dari mana Obama tahu hal itu? Pertama, ini era cyber space, yang membuat informasi begitu mudahnya diakses dari pelbagai sumber. Kedua, sebelum ia datang ke Indonesia, Kedutaan Besar AS di Indonesia sudah menyiapkan analisis situasi terkini tentang Indonesia. Seorang kawan saya, aktivis dialog antaragama dan perdamaian, bercerita bahwa ia dan beberapa aktivis lainnya telah diundang Dubes AS ke rumahnya, 3 November lalu, untuk makan siang sambil bercakap-cakap. Tak ada makan siang yang gratis bukan?

* Dosen FISIP Universitas Pelita Harapan.

Published in: on 16 Desember 2010 at 12:26 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Check out my Guestbook!


[slideguest id=2089670227126011007&w=400&h=300]

Published in: on 15 Desember 2010 at 11:55 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
%d blogger menyukai ini: